“Asik
? Malam ini nggak asik sedikitpun ra! Coba lu pikir aja gimana kejadian tadi! Masih
ada rasa dia sama gue?” sontak gue ngebentak Rara yang dengan hebohnya merasa
malam ini malam yang asik penuh bulan, matahari, bintang, meteor, pesawat dan
entah lah apalagi yang tuh nenek gila bilang ke gue.
Malam ini gue cuma berani buka Facebook dan Twitter dia, cuma hal itu yang gue mampu
lakuin demi meredem jiwa stalker yang terus menjalar diotak ini. “Ketik Dhafin
Juan Saputra,” kata ku dalam hati ini. Oh Andwae!! FB nya dihack! Lantas gue
harus ngapain? Banting netbook? Atau nge-Like? Atau mungkin nge-comment? Atau gue telepon Dhafin?
Setiap malam selalu jadi galau begini,
selalu dan tak hilang dari kata selalu. Selalu ada Rara yang nelponin tiap satu
jam sekali, dengan tujuan tak lebih dari menanyakan kabar Dhafin, yang entah
dari mana aku selalu tahu keadaannya, sedang apa dia dan segala halnya. Belum
lagi si Mr. Kepo Wala Pane yang nggak
jauh beda alaynya sama Rara. Dan pastinya Dhafin, yang membebani otak dan
pikiran sejak dua bulan yang lalu.




Semua
ini berawal dari adanya acara wawancara khusus Hallyu Lovers dimana aku diminta
hadir sebagai salah satu nara sumber. Karena merasa kagok bila sendiri, maka
Rara pun menjadi korban beruntung dalam acara tersebut. Dijanjikan acara mulai
pukul 15.30 Wib, namun tak ada satu pun kerumunan di Dine & Chat. Akupun
memberanikan diri untuk ambil tempat sendiri di meja bernomor tiga belas,
kebetulan dengan lucky number ku. Selang 5 menit kemudian, datang seorang
laki-laki tinggi berparas Asia Timur, dengan tinggi 184 cm yang tiba-tiba
datang menghampiri dengan menyodorkan tangannya.
“Hai, aku
Dhafin, kamu Rene kan?”, katanya.
Dengan
kaku sembari bingung aku pun menyodorkan tangan ku dengan ragu-ragu “Iya aku
Rene, kamu siapa? Tahu darimana namaku?”
Dengan
senyum angkuhnya,”Aku temen FB mu dan diajak juga dalam wawancara ini.”
“Owh...
Kam...”
Tiba-tiba
suasana berhubah dengan kedatangan Rara, yang sekaligus memberi rasa aman
karena aku tidak perlu melanjutkan pembicaraan dengan Dhafin.
Hingga
akupun baru tahu, kalo dia juga merupakan Hallyu Lovers dan pada bulan Desember
nanti akan ikut tour musim dingin di Seoul.
Hari keberangkatan tiba, dan sialnya
aku harus duduk di sebelah Dhafin. Ini awal mimpi buruk dalam rangkaian tour
impianku. Sesaat setelah lepas landas,
“Patahlah Bidai Surgaku”
Bidai!
Menopang rumahku yang penuh akan gundah..
Namun, dikala putik tak mau lagi bertemu sari...
Mungkinkah bunga kan kucium dalam bahtera rumah muliaku?
Andai bumi tak bercadar
Pura-paru ia berlalu menangkap kataku yang rapuh..
kutulis
secarik puisi yang entah mengapa aku teringat akan ketidak sungguhan Lee Jeun
untuk menjadikanku pasangan sehidup sematinya di altar, mengapa semuanya meski
berakhir dalam 13 menit sebelum pemberkatan. “Huft...”, desah panjangku.
Seketika tak lama setelah itu Dhafin pun berani membuka mulut dan langsung
menyergap puisi yang baru kutulis pada perkamen kesukaanku.
“Freak! Ga ngerti akan makna puisi mu Ren!”, gelaknya menghina.
“Freak! Ga ngerti akan makna puisi mu Ren!”, gelaknya menghina.
“Sudah aku
tak mahu diganggu, kembalikan sekarang Fin, dan masalah selesai”, jawabku
ketus.






Ntah mengapa kali ini Dhafin sangat penurut dan
tak lama setelah itu ia terlelap dalam penerbangan panjang tersebut.
Berhari-hari setelah kembali ke Indonesia,
semuanya seakan hilang. Sosok lucu dan selalu mengagnggu entah hilang bak di
telan bumi. Tak ada kabar, baik sms, maupun telfon. Semuanya tampak abstrak
saat aku membaca Tweetnya yang berisikan,”Ini keputusan ku, aku harus melepas
satu putik demi putik dari mereka, maaf mengganggu waktu anda selama ini.”
Bagai cambukan keras dalam hati ku yang kiang berspekulasi akan makna Tweet
tersebut. Tidak selang satu jam, Wala Pane datang dengan hebohnya dengan
membawa bungkusan kertas bertuliskan Undangan di tangan kirinya. Wala
menyerahkan undangan tersebut penuh kemuraman. Dan jelas lah semua, ketika aku
melihat nama orang yang selama ini bagai telah mengisi dengan total kembali
hatiku ini. Namun ia harus pergi dengan cara yang lebih menyakitkan. Aku ingin
lari dari kehidupan cinta yang pelik ini! Mengapa hari menyakitkan itu harus
tanggal 13!
Tepat pagi yang cerah ini tanggal 13
Februari 2012, hari pernikahan orang yang telah mebuang total cintanya padaku. Apapun
yang terjadi, aku akan tetap hadir dalam acar tersebut dan menyaksikan
kebahagian Dhafin. Ketika ku injakkan kakiku di pelataran area pemberkatan,
tampak Dhafin menatap ku penuh rasa maaf akan semua yang terjadi, seakan-akan
ia ingin menjelaskan bahwa pernikahan ini hanyalah tanpa cinta dan hanya
penjodohan semata demi kebahagian orang tuanya. Namun bagiku ini terlalu
kekanak-kanankkan untuk terjadi kembali pada hidupku. Tepat pukul 10.00 Wib,
sang mempelai datang dan berjalan penuh keanggunan menuju altar, hal ini sangat
menyakitkan bagiku. Hingga saat bapa pendeta berucap apakah ia bersedia menjadi
pasangan Dhafin, jawabannya pun berbeda dan seketika menghebohkan seluruh
ruangan. “Aku menolak untuk menjadi pasangan sehidup semati Dhafin Juan
Saputra, karena ada sosok lain yang lebih pantas dan membutuhkannya daripada
saya.” Jawaban itu langsung membuatku meneteskan air mata dan seketika Dhafin
berlari memelukku dan menarikku ke altar. Akhir yang sempurna dengan penuh
totalitas
cinta yang terbayar diakhir meski telah
tercoreng oleh sakitnya pengkhianatan.
cinta yang terbayar diakhir meski telah
tercoreng oleh sakitnya pengkhianatan.
Nama : Andrian
Saputra
Jurusan : Hubungan Internasional
Kelompok : Totalitas
Tidak ada komentar:
Posting Komentar